RSS

Pempek (bagian I)

31 May

pempek

Slurpy… Beginilah cara pempek dinikmati di Bangka .

Makanan ini selalu bikin kangen. Saya nyaris ga pernah nolak pempek dalam segala situasi dan kondisi. Entah itu pempek bangka, palembang atau lampung sekali pun. Pempek sepertinya memang sudah jadi makanan sehari-hari warga Sumatera bagian selatan dan sekitarnya.

Jadi begini, sebagai orang Bangka tulen (lahir dan besar di sana), kami tidak lepas dari pempek. Dari kecil kami terbiasa dengan makanan satu ini. Selalu ada sales pempek yang menawarkan dari pintu ke pintu. Pempek dipotong-potong ukuran bite-size, dimasukkan ke dalam panci aluminium besar, tutupnya diikat pake karet dari telinga yang satu ke telinga yang lain — telinga panci tentu — bukan telinga penjualnya, ditaruh di atas pinggan besar, lengkap dengan cocolan dan dibawa di atas kepala. Si sales tak lupa sesekali meneriakkan dagangannya, “Kumpangcai! Kumpangcai uuu…” :p Yang artinya kira-kira: “Pempek, pempek, niihhhh.”

Lalu, kami akan mengerumuni si penjual yang segera menurunkan dagangannya, melepaskan karet tutup panci. Jika pempeknya masih fresh from the wajan, maka uap hangat akan segera mengepul. Ah! Pemandangan super nikmat.

Maka, kami pun menusuk pempek ukuran mini itu dengan lidi yang sudah disiapkan, dan memotong-motongnya menjadi ukuran lebih kecil lagi di atas talenan kecil dari kayu. Potongan ini kemudian dicocol ke dalam tiga macam cocolan: cabe ulek garam, sambel terasi (belacan) cair, dan sambel tauco (theu ciong) cair. Yang ga doyan pedes, biasanya tidak berani mencocol pempeknya ke dalam cabe ulek.

pempek2

Membuat pempek gampang-gampang susah. Kurang sagu, terlalu lembek, kebanyakan sagu, kealotan. Dengan takaran yang sama pun, hasilnya bisa beda-beda, karena tergantung banget pada proses pengulenannya. Sampai hari ini belum terlalu sukses mereplikasi pempek bikinan Mama yang selalu bikin kangen.

O ya, kadang-kadang si Mama bikinin kami pempek yang ikan banget, karena untuk dikonsumsi sendiri biasanya ga pelit-pelit deh ikannya. πŸ™‚ Yang paling ditunggu-tunggu adalah ketika pempek mengambang dalam wajan, karena itu berarti pempek sudah matang! Langsung diserbu panas-panas, tanpa repot-repot menunggu cocolan. Pempeknya aja udah enak banget. Maklum ikan bangka tu kualitasnya baik, manis, segar.

Makanya saya heran banget ketika sudah tinggal di Jakarta. Oleh orang-orang Jakarta (dan penduduk pulau Jawa pada umumnya) pempek yang belum digoreng ini dibilang mentah. Duh, bingung deh, kan dah direbus gitu loh. :p

Tentu saja selain direbus, pempek goreng juga lazim disantap di Bangka. Disebut kelesan dalam bahasa Melayu, pempek goreng ini digoreng sekedarnya saja, tidak sampai kering seperti layaknya pempek palembang. Jika digoreng, maka cocolannya pun berubah, mengikuti selera Palembang, yaitu menggunakan cuko. Namun, cuko ala Bangka ini pun light sekali, cenderung encer tidak pekat seperti cuko palembang. Bumbunya minimalis sekali, hanya air cuka yang direbus bawang putih yang diulek dengan cabe, garam, gula aren dan kecap asin. Katanya sih supaya rasa cuko tidak menutupi rasa pempeknya yang emang udah enak. πŸ˜‰ *katanya, lho, saya bukan ahli kuliner.*

Di Bangka pula, pempek juga lazim dibuat dari kulit ikan, ikan yang warna dagingnya gelap, udang, cumi, atau campuran dari jenis2 seafood tersebut. Pempek juga adalah bahan dasar membuat kerupuk atau kempelang dalam bahasa aslinya. Pempek-pempek ini dibuat dalam diamater yang cukup besar (manteph), dijemur, kemudian diiris-iris dan dijemur lagi sampai benar-benar kering. Inilah biang si kerupuk. Biangnya ini nanti bisa dipanggang, digoreng atau disangrai pasir. Semuanya sama enaknya. Kata saya, lho. :p

Kalau lagi pengen makan pempek rumahan yang bebas MSG, saya bikin sendiri dengan peralatan ala kadarnya. Hikss.. pengen banget punya food processor, tapi tiap kali ketemunya yang harganya di atas 3 juta. Waks! Mending beli gilingan ikan manual aja kali ya?

Advertisements
 
2 Comments

Posted by on May 31, 2011 in fishy

 

Tags:

2 responses to “Pempek (bagian I)

  1. Ratna k halim

    May 31, 2011 at 3:49 pm

    Dev, thanks ya tulisanmu ttg pempek beneran menambah pengetahuan ttg macem2 pempek, maklum tidak dibesarkan dalam tradisi pempek. Jadi tahu ternyata pempek lain daerah lain macam & sausnya πŸ˜€

     
    • me

      May 31, 2011 at 8:31 pm

      Hehehe.. Makasih Ratna…

       

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

w

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: