RSS

Dadar Bayam Panggang

bayam-omelet

Masakan satu ini termasuk kid’s favorite, mungkin karena rasanya yang kebule-bulean. Hehehehe.

Aku kurang jelas si ini sebenarnya omelet ato frittata, karena buat orang Indonesia macam aku ini, semua telur yang didadar ya disebutnya telur dadar. Kalo para bule ini membedakan antara omelet, frittata, tortilla (ala spanyol), padahal beti-beti doang si cara masaknya. Hasil akhirnya mirip.

Baiklah. Yang membedakan masakan ini dengan dadar biasa adalah… dia dipanggang. Ada dua macam resep frittata, yang langsung panggang dan yang digoreng dulu di atas kompor, baru masuk oven setelah bagian bawahnya matang (tidak dibalik). Saya pilih cara kedua, karena pengen tahu aja ada bedanya ga; juga karena sangat ingin balik modal telah menebus oven tangkring bongsor ini dari sebuah TBK di bilangan BSD kurang lebih setahun yang lalu.

Omelet di atas menggunakan bahan-bahan seadanya di kulkas:
- 1 ikat bayam — iris halus
- 1/4 bawang bombay potong kotak2 kecil
- 2 siung bawang putih, cincang
- 4 butir telur (sebaiknya lebih banyak lagi supaya tebal)
- 3 lbr smoked beef
- susu cair 100 ml
- garam, merica
- keju cheddar parut(untuk topping)

kocok telur sampai tercampur rata, masukkan susu (dan keju kalo suka).

Tumis bawang bombay sebentar, masukkan bawang putih, tunggu sampai harum, masukkan bayam. Tuang adonan telur di atasnya. Kalo sudah matang bawahnya — bagian atas masih encer — taburi dengan keju parut. Masukkan ke dalam oven yang sudah dipanaskan. Panggang sampai keju mengering. Sajikan.

O ya, saya menggoreng telur dengan pan yang terbuat dari stainless, jadi bisa langsung masuk oven. Jangan nekad masukin wajan atau pan teflon ya. :p

Hati-hati dengan pengutil keju, peringatkan bahwa masakan ini masih panas.

kowi-frittata

Smoked beef bisa diganti apa saja. ;) Ham, bacon, smoked chicken, sosis, apa pun itu.

 
Leave a comment

Posted by on June 18, 2011 in telur

 

Sup Oyong (lagi)

Oh.. masakan ini, bikin nyaman hati. Buatku ini sejenis comfort food. Sederhanaaaa dan gampang bikinnya. Dimakan hangat2, enaknya bukan main. Ini resep dari bukunya bu Sisca Suwitomo.

oyong-misoa

Bahan:
2 siung bawang putih, memarkan
2 cm jahe, memarkan
cabe potong2
100 gr udang, kupas, sisakan ekor
750 ml air
3 buah oyong (gambas), kupas, iris
2 ikat misoa
seledri
garam dan merica secukupnya
minyak goreng

Cara:
Tumis bawang putih dan jahe sampai harum. Masukkan udang, masak sampai udang berubah warna. Masukkan air, tunggu sampai mendidih. Masukkan oyong, masak sebentar. Masukkan garam, dan merica bubuk, aduk rata. Tambahkan misoa, masak sebentar, angkat. Tabur dengan seledri.

 
Leave a comment

Posted by on June 13, 2011 in prawny, veggie

 

Tags: , ,

Siomay Bandung

siomay-bandung

Sore-sore, terkadang saya merindukan siomay abang-abang yang lewat depan rumah waktu masih tinggal di sebuah gang mungil di Tanjung Duren.

Di sini… di dalam cluster yang dijaga satpam 24 jam ini, boro-boro! Kalau kangen makanan ala pedagang keliling gini, saya mesti keluarin mobil, lengkap dengan tiga orang krucil, yang mana satu orangnya masih bayi yang belum bisa duduk. Oh, repotnya demi sepiring siomay yang harganya tidak sampai Rp 10.000.

Demi balas dendam, saya pun coba bikin siomay sendiri. Udh bbrp kali bikin yang ala dimsum, tapi yg ala abang2, alias siomay bandung yang rada kenyal2, aku juga suka.

Ini resepnya:

150gr tenggiri
100gr udang
100-150gr sagu
4 bwg mrh halusin
4 bwg putih halusin
1 putih telor
120gr labu siam parut (peres airnya)
wortel sesuai selera
daun bwg iris haluuus
merica, garam, gula
bubuk ayam/jamur
50-150ml air
myk wijen
kecap ikan dikit
(boleh juga tambahin jamur shitake cincang)

Haluskan tenggiri dan udang. Aduk rata dengan labu siam, wortel, daun bawang. Tambahkan garam, merica, gula, bubuk ayam. Masukin putih telor, aduk rata. Dikit2 tambahin airnya, sampe kecampur rata (jangan semua dimasukin, sisain dikit, buat jaga2 kalo adonan terlalu liat). Masukin sagu, dikit2 juga, uleni pake tangan. Abis itu bentuk deh. Kukus di kukusan yang dah dipanasin sebelumnya. Pake kukusan kayu lbh ok loh. Oh ya, kalo mau pake kulit pangsit, ya sok aja, atuh. Mangga.

siomay1

Resep saus kacangnya:
200 gr kacang kupas kulit — sangrai — alusin (pake kacang goreng juga boleh, tapi lebih berminyak ya)
1 bh kentang gede, rebus, haluskan
cabe merah sesuai selera
3 siung bawang putih
garam
gula merah (brown sugar)
gula pasir
bubuk ayam
air
minyak untuk menumis

Tumis bawang putih & cabe yang udah dihaluskan. Masukin semua bahan lain. Air tambahkan sesuai tingkat kekentalan yang diinginkan. Kalo ga ada kentang, ubi merah juga boleh, fungsinya biar sausnya kental mantap. :)

Lengkapi dengan kecap manis & jeruk limo dong…

 
Leave a comment

Posted by on June 13, 2011 in fishy, prawny, veggie

 

Tags: , ,

Sayur Keriting Itu Bernama Pagoda

Beberapa waktu lalu penasaran dengan sayur satu ini. Beberapa kali melihatnya di pasar, tapi belum tergerak beli.

sayurpagoda

Akhirnya beli juga di sebuah supermarket, hanya karena namanya yang lucu: Pagoda. Iiiihhh… hihihi.

Lalu sayuran ini pun tiada cara lain selain ditumis supaya bisa segera dirasakan kelezatannya. Konon sayur ini super crunchy. Dan, memang!

tumispagoda

Rasanya mirip sawi. Crunchy, kriuk. Dihidangkan bersama tofu, supaya anak-anak lebih tergoda memakannya. ;)

 
Leave a comment

Posted by on June 9, 2011 in veggie

 

Tags: ,

Pempek (bagian II) – Resep

themakingofpempek

Ok. Sekarang kita sampai ke bagian resep.

Ini resep pempek ala ibu saya, yang karena beliau adalah orang Bangka, tentu saja alirannya adalah aliran purist, minimalis abis. Tidak pake bawang putih, bawang merah. Hanya ikan, sagu, dan air. Si Mama berkali-kali menekankan: Jangan terlalu diuleni, nanti alot! Jadi, yang membedakan adalah, tangan yang mengerjakan adonan ini.

Bahan:

- 1 kg ikan utuh — biasanya pake tenggiri
- ½ – ¾ gelas air (ukuran gelas kecil sekitar 200ml)
- 600-700gr tepung tapioka kualitas bagus (misal cap tani)
- garam, penyedap (kalo suka), gula (kalo suka), ada yang bilang kalo pake gula ntar efeknya jadi cepet item pas digoreng

Cara:
Kerok ikan dan haluskan (kira2 dapet 600 gr). Ratakan daging ikan dengan garam dan penyedap. Masukin air ½ gelas sedikit demi sedikit sambil diaduk rata dengan tangan. Cicipin dikit dah pas belum rasanya (berhubung ini ikan mentah, mungkin bisa diambil sedikit , dan dimatangkan dalam air mendidih).
Masukin tepung dikit-dikit sambil diratakan seperlunya, asal rata aja.

Here’s the tricky part: Jangan terlalu kuat menguleninya begitu tepung masuk, krn nanti jadi liat banget. Pempek yang baik teksturnya adalah yang sudah bisa dipulung, bisa dengan bantuan sagu di tangan — jangan terlalu banyak ntar (lagi-lagi) alot. Jadi kira-kira gini: dalemnya gak papa agak lembek, tapi bagian luarnya dah cukup firm.
Bentuk2 empek2nya menurut selera.

Didihkan air. Cemplungin. Tunggu sampai mengapung. Cek kematangan dengan membelah pakai pisau.

Jangan lupa melumuri tangan dengan tepung selama memulung. Semoga berhasil.

 
Leave a comment

Posted by on May 31, 2011 in fishy

 

Tags:

Pempek (bagian I)

pempek

Slurpy… Beginilah cara pempek dinikmati di Bangka .

Makanan ini selalu bikin kangen. Saya nyaris ga pernah nolak pempek dalam segala situasi dan kondisi. Entah itu pempek bangka, palembang atau lampung sekali pun. Pempek sepertinya memang sudah jadi makanan sehari-hari warga Sumatera bagian selatan dan sekitarnya.

Jadi begini, sebagai orang Bangka tulen (lahir dan besar di sana), kami tidak lepas dari pempek. Dari kecil kami terbiasa dengan makanan satu ini. Selalu ada sales pempek yang menawarkan dari pintu ke pintu. Pempek dipotong-potong ukuran bite-size, dimasukkan ke dalam panci aluminium besar, tutupnya diikat pake karet dari telinga yang satu ke telinga yang lain — telinga panci tentu — bukan telinga penjualnya, ditaruh di atas pinggan besar, lengkap dengan cocolan dan dibawa di atas kepala. Si sales tak lupa sesekali meneriakkan dagangannya, “Kumpangcai! Kumpangcai uuu…” :p Yang artinya kira-kira: “Pempek, pempek, niihhhh.”

Lalu, kami akan mengerumuni si penjual yang segera menurunkan dagangannya, melepaskan karet tutup panci. Jika pempeknya masih fresh from the wajan, maka uap hangat akan segera mengepul. Ah! Pemandangan super nikmat.

Maka, kami pun menusuk pempek ukuran mini itu dengan lidi yang sudah disiapkan, dan memotong-motongnya menjadi ukuran lebih kecil lagi di atas talenan kecil dari kayu. Potongan ini kemudian dicocol ke dalam tiga macam cocolan: cabe ulek garam, sambel terasi (belacan) cair, dan sambel tauco (theu ciong) cair. Yang ga doyan pedes, biasanya tidak berani mencocol pempeknya ke dalam cabe ulek.

pempek2

Membuat pempek gampang-gampang susah. Kurang sagu, terlalu lembek, kebanyakan sagu, kealotan. Dengan takaran yang sama pun, hasilnya bisa beda-beda, karena tergantung banget pada proses pengulenannya. Sampai hari ini belum terlalu sukses mereplikasi pempek bikinan Mama yang selalu bikin kangen.

O ya, kadang-kadang si Mama bikinin kami pempek yang ikan banget, karena untuk dikonsumsi sendiri biasanya ga pelit-pelit deh ikannya. :) Yang paling ditunggu-tunggu adalah ketika pempek mengambang dalam wajan, karena itu berarti pempek sudah matang! Langsung diserbu panas-panas, tanpa repot-repot menunggu cocolan. Pempeknya aja udah enak banget. Maklum ikan bangka tu kualitasnya baik, manis, segar.

Makanya saya heran banget ketika sudah tinggal di Jakarta. Oleh orang-orang Jakarta (dan penduduk pulau Jawa pada umumnya) pempek yang belum digoreng ini dibilang mentah. Duh, bingung deh, kan dah direbus gitu loh. :p

Tentu saja selain direbus, pempek goreng juga lazim disantap di Bangka. Disebut kelesan dalam bahasa Melayu, pempek goreng ini digoreng sekedarnya saja, tidak sampai kering seperti layaknya pempek palembang. Jika digoreng, maka cocolannya pun berubah, mengikuti selera Palembang, yaitu menggunakan cuko. Namun, cuko ala Bangka ini pun light sekali, cenderung encer tidak pekat seperti cuko palembang. Bumbunya minimalis sekali, hanya air cuka yang direbus bawang putih yang diulek dengan cabe, garam, gula aren dan kecap asin. Katanya sih supaya rasa cuko tidak menutupi rasa pempeknya yang emang udah enak. ;) *katanya, lho, saya bukan ahli kuliner.*

Di Bangka pula, pempek juga lazim dibuat dari kulit ikan, ikan yang warna dagingnya gelap, udang, cumi, atau campuran dari jenis2 seafood tersebut. Pempek juga adalah bahan dasar membuat kerupuk atau kempelang dalam bahasa aslinya. Pempek-pempek ini dibuat dalam diamater yang cukup besar (manteph), dijemur, kemudian diiris-iris dan dijemur lagi sampai benar-benar kering. Inilah biang si kerupuk. Biangnya ini nanti bisa dipanggang, digoreng atau disangrai pasir. Semuanya sama enaknya. Kata saya, lho. :p

Kalau lagi pengen makan pempek rumahan yang bebas MSG, saya bikin sendiri dengan peralatan ala kadarnya. Hikss.. pengen banget punya food processor, tapi tiap kali ketemunya yang harganya di atas 3 juta. Waks! Mending beli gilingan ikan manual aja kali ya?

 
2 Comments

Posted by on May 31, 2011 in fishy

 

Tags:

Bacem-bacem

Di pasar, sepotong tahu atau tempe bacem dihargai 1.500-2.000 rupiah. Padahal kalo bikin sendiri, sepotong besar tahu putih harganya Rp 2.500 — kalo dipotong2 minimal dapat 8 potong. Apalagi tempe, banyak banget dapetnya. Modalnya ga seberapa.

Ayam diungkep model bacem gini juga enak banget lo. Kalau digoreng, ayamnya ga akan terlalu garing, jadi rada basah, dan manisnya meresap sampai ke dalam. Enak deh! — pas difoto ini, ayamnya dah habis dieksekusi.

tahubacem

Resep untuk 1 buah tahu dan 1 tempe (dan bbrp potong ayam):

- 8 bawang merah
- 4 bawang putih
- 1 sdt ketumbar
- air kelapa (kurang lebih 500 ml)
- 2 cm lengkuas
- 2 lbr daun salam
- air asam jawa sesuai selera
- gula merah sesuai selera
- garam

Haluskan bawang merah & bawang putih & ketumbar. Lengkuas digeprek.

Rebus tahu, tempe & ayam di dalam air kelapa bersama semua bumbu. Kalo kurang bolehlah tambahin air (tapi jangan banyakan air daripada air kelapanya ya).

Gunakan api kecil saja, biarkan sampai air agak mengering. Jangan terlalu kering, nanti pancinya gosong. :) Air kelapa memberikan sensasi yang tak tergantikan, ada rasa kecut khas kelapa. Sesekali diaduk ya, tapi hati-hati, karena tahu gampang hancur. Cicipi rasanya udah mantap belum, kalau belum, beranikan diri menambahkan yang kurang, mungkin gulanya kurang, atau kurang asem, atau kurang asin?

Kalo sudah terungkep dengan baik, goreng deh. Tahu & tempe bacem yang sudah diungkep ini bisa disimpan bbrp hari dalam wadah kedap udara di dalam kulkas.

 
2 Comments

Posted by on May 29, 2011 in chicken, Tahu & Tempe

 

Tags: , , ,

Green Tea Pound Cake

Kami semua penggemar green tea. Yang namanya Greentea Latte *bux, pasti jadi rebutan dari papa-mama-dan dua krucilnya (yang satu masih bayi jadi belom bisa rebutan).

Ceritanya, aku lagi belanja-belenji bahan-bahan bikin kue di sebuah TBK yang laris banget, ga jauh dari rumah. Pas lagi di situ, nemu bubuk green tea nyempil di tengah bahan-bahan bubuk lain. Langsung deh ambil, walaupun harganya lumayan mahal untuk kemasan semungil itu, Rp 30 ribu 50gr.

Tapi, ternyata lumayan banget, dari 50 gr itu aku berhasil bikin kue dua loyang ukuran 20×4 (satu loyang bronis, satu loyang oval kayak di foto), belum termasuk beberapa gelas green tea latte yang menurut review yang minum, “Mirip banget rasanya sama yang *bux!”  Nah looo…

Resepnya ngambil di sini. Katanya hasil karya Nick Malgieri, yang aku tak tahu siapa itu. Hihihihihi.

Kutulis ulang resepnya dalam bahasa Indonesia dan ukuran metrik ya. Tapi dicek juga ke resep aslinya, siapa tau aku salah konversi. Hehehee.

Green Tea Pound Cake

makes one 9×5 loaf or two mini loaves
recipe from Fountain of Life Green Tea Company

bahan

280 gr terigu serba guna (bungkus biru bogasari)
2 tbsp bubuk green tea (aku ga tau brp gram, beli sendok ukur aja ya, berguna banget kok)
2 tsp baking powder
250 gr unsalted butter (lunakkan)
220 gr gula bubuk
5 telur ukuran besar, pisahkan kuning dan putihnya
pinch of salt (aku ga tau brp ni takaran pinch, jadi aku ambil aja sejumput garam)

cara:

1. Alasi loyang dengan kertas roti, olesi dengan mentega. Masukkan ke dalam oven yang sudah dipanaskan, suhu 160C. Campur tepung terigu, bubuk green tea, dan baking powder sampai tercampur rata.
2. Kocok mentega dan gula bubuk sekitar 3 menit atau sampai terasa ringan (bener ga ya terjemahannya –> until light). Masukkan dan kocok kuning telur satu per satu,  sambil sesekali dibantu spatula untuk meratakan adonan yang nempel di mangkok kocok.  Masukkan tepung, aduk rata dengan cara aduk-lipat bahan kering (terigu yang sudah dicampur dengan greentea dan baking powder) menggunakan spatula.
3. Setelah itu campur putih telur dengan garam di dalam mangkok lain. Kocok dengan kecepatan sedang sampai berbusa putih. Turunkan kecepatan, dan kocok lagi putih telurnya sampai mengembang dan berpuncak tumpul.
4. Dengan cepat, masukkan kocokan putih telur ke dalam adonan pertama. Aduk sampai benar-benar rata, sampai tidak ada busa putih telur tersisa.
5. Masukkan ke dalam loyang, ratakan bagian atasnya. Panggang sekitar  45 menit  atau sampai tes-tusuk-dengan-tusuk gigi-nya sukses. Dinginkan, potong-potong deh.


Enak lo… Ini aku pake campuran mentega+margarin, dengan perbandingan asal-asal. Menteganya punyanya pas merk Wijsman, takut eneg. Kata suamiku nendang banget menteganya. :p

 
Leave a comment

Posted by on May 16, 2011 in bake, cake

 

Tags: ,

Cheesy Steamed Cake

Aslinya resep ini bernama Brownies Kukus Keju.

Karena terasa kurang pas namanya, mendingan kita sebut Cake Keju Kukus aja ya. Resep ini adalah karya Pak Sahak. Aku kurang tahu pasti siapakah beliau ini, yang pasti pinter masak + bikin kue, dan tidak pelit bagi ilmu.

Resep ini menggunakan cream cheese, berhubung lagi ga ada, dan males belinya (nyimpennya repot, expired-nya cepet banget); jadi aku pake 1 resep cream cheese gadungan karya Vivi Liong –> liat di bawah ya.

Jangan terintimidasi dengan bahan A, B, C-nya ya.. itu cuma untuk memudahkan step-step pengerjaannya. Berhasil membuat satu loyang 20x10x4 dan 3 loyang cupcake mini (kayak di foto ini).

Supaya ga terasa monoton, aku masukin selai stoberi ke dalam cupcake.  Sorry yg gede ga sempet difoto, dah abis duluan, langsung dibawa Chloe untuk bekal main di taman, diambil Joel untuk menemaninya berwikipedia :p. Sementara untuk yg loyang bronis — bikin dua loyang ukuran 20x10x4, ditumpuk setelah tengahnya dikasih olesan selai strawberry/blueberry, dll.

BROWNIES KUKUS KEJU
by Sahak Pribadi

Bahan :
Bahan A :

3 btr telur

100 gr gula pasir

1 sdm TBM

Bahan B :

60 gr tepung terigu

20 gr tepung maizena

1 sdt garam

40 gr susu bubuk

Bahan C :

250 gr cream cheese

50 – 100 gr butter (pas masih sisa 80 gr di rumah :p)

CREAM CHEESE GADUNGAN

by Vivi Liong

Bahan :
150 gr keju cheddar parut
100 ml susu cair

Caranya :

Panaskan susu cair, masukkan keju parut, aduk rata hingga halus (keju larut dan menyatu dengan susu), angkat.

Cara membuat :

1. Kocok bahan A sampai mengembang. (sampai kental dan berpita)

2. Masukan bahan B lalu aduk sampai rata.

3. Kocok bahan C sampai halus kemudian masukan ke adonan lalu aduk sampai rata.

4. Tuang ke loyang lalu kukus kurang lebih 20 menit.


 
Leave a comment

Posted by on May 15, 2011 in cake, no-bake, Uncategorized

 

Tags: , ,

Beef Teriyaki

beef-teriyaki

Beberapa hari ini kok kepengen makan beef teriyaki. Orang Indonesia pada umumnya mengenal makanan ini berkat jasa Hoka Hoka Bento. Versi Hokben adalah yang ada tumisan bawang bombay-nya (dan mungkin bawang putih juga).

Kalau yang ini, modelnya dagingnya dimarinate kemudian di-panfry — harusnya dipanggang sih — trus baru disiram saus di atasnya.

Walau saus teriyaki ready-made tersedia di pasaran, dari produk lokal sampe impor dari Jepang, kita bisa bikin sendiri di rumah.

Untuk daging 1/4 kg:

Marinade
1 sdt shoyu — sebaiknya gunakan kecap asin dari Jepang, rasanya beda dengan kecap asin dari negeri kita
1 sdt sake — tidak ada sake, jadi saya pake angciu

Saus teriyaki
2 sdm shoyu
2 sdm mirin
2 sdm sake
2 sdm gula
1 sdm air jahe
1 sdt tepung maizena, larutkan dengan 1 sdt air

Garnish
daun bawang & wijen (atau bijan kata orang Malaysia)

Marinate daging kurleb 1 jam. Panggang atau panfry, sambil dibolak-balik sampe matang dan warnanya rata.
Panaskan bahan saus sampai meletup/gula larut. Siram di atas daging.
Taburi wijen dan irisan daung bawang.

Itadakimasu!

 
Leave a comment

Posted by on September 18, 2010 in beef

 

Tags: ,

 
Follow

Get every new post delivered to your Inbox.